Isra’ dan Mi’raj: Perjalanan Agung Nabi Muhammad

BEKASI (detikgp.com) – Peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi salah satu mukjizat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan luar biasa ini tidak hanya menegaskan kebesaran Allah, tetapi juga menetapkan kewajiban utama bagi umat Islam, yakni shalat lima waktu.

Isra’ Mi’raj terjadi dalam satu malam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 1. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, sebelum kemudian dinaikkan ke langit untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian yang dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn atau tahun kesedihan. Pada masa itu, Rasulullah SAW kehilangan dua orang terdekat yang selama ini menjadi penopang dakwah, yakni istri beliau Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib. Tak lama kemudian, Rasulullah SAW juga mengalami penolakan keras dari penduduk Thaif.

Dalam berbagai riwayat hadits shahih yang dicatat Imam Bukhari dan Imam Muslim, diceritakan bahwa sebelum perjalanan dimulai, Malaikat Jibril AS membelah dada Rasulullah SAW, mencucinya dengan air zam-zam, lalu mengisinya dengan iman dan hikmah sebagai persiapan rohani.

Saat Isra’, Rasulullah SAW dibawa menaiki Buraq dan tiba di Masjidil Aqsha. Di tempat suci tersebut, beliau melaksanakan shalat dua rakaat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Selanjutnya, dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah SAW naik ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Di Sidratul Muntaha, Allah SWT mewajibkan shalat kepada umat Islam. 

Awalnya kewajiban itu ditetapkan sebanyak 50 kali sehari semalam, namun setelah Rasulullah SAW memohon keringanan, Allah SWT menetapkannya menjadi lima waktu dengan pahala setara 50 kali shalat.

Kisah Isra’ Mi’raj sempat ditolak dan ditertawakan oleh kaum Quraisy. Namun Abu Bakar RA langsung membenarkan peristiwa tersebut tanpa ragu, sehingga mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah menyepakati bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi dengan ruh dan jasad Rasulullah SAW dalam keadaan sadar, bukan mimpi. Peristiwa ini hingga kini diperingati umat Islam sebagai momentum penguatan iman dan pengingat akan pentingnya menjaga shalat lima waktu sebagai tiang agama. (Red. / As)

Editor: Nurul Khairiyah

Anda mungkin juga berminat