SAUDI ARABIA (detikgp.com) – Lonjakan aktivitas komunikasi selama bulan Ramadan 2026 di Tanah Suci menunjukkan angka yang sangat tinggi. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, ratusan juta panggilan telepon tercatat terjadi di dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah.
Berdasarkan data dari Communications, Space and Technology Commission (CST), jumlah panggilan lokal di Makkah mencapai lebih dari 378 juta panggilan. Sementara itu, panggilan internasional tercatat menembus angka 44 juta panggilan. Tingginya angka ini mencerminkan intensitas komunikasi para jemaah dari berbagai negara selama menjalankan ibadah.
Kondisi serupa juga terjadi di Madinah. Dalam periode 1 hingga 27 Ramadan, tercatat lebih dari 238 juta panggilan lokal dan sekitar 22 juta panggilan internasional dilakukan oleh para jemaah.
Fenomena ini tidak hanya menunjukkan tingginya aktivitas telekomunikasi, tetapi juga menggambarkan kuatnya kebutuhan jemaah untuk tetap terhubung dengan keluarga di tanah air. Berbagai momen dibagikan, mulai dari kabar keselamatan, pengalaman beribadah di Masjid al-Haram, hingga doa-doa yang dipanjatkan dari dekat Ka’bah.
Lonjakan komunikasi ini turut didukung oleh peningkatan kualitas jaringan di kedua kota suci tersebut. CST mencatat kecepatan internet mobile di Makkah mencapai 234 Mbps, sementara di Madinah bahkan mencapai 318 Mbps.
Selain itu, konsumsi data juga mengalami peningkatan signifikan. Rata-rata penggunaan data per orang per hari tercatat mencapai 1.297 Mb di Makkah dan 1.828 Mb di Madinah, atau lebih dari tiga kali lipat rata-rata global.
Dengan jutaan jemaah yang memadati Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi, angka ratusan juta panggilan ini menjadi lebih dari sekadar statistik. Ia mencerminkan bagaimana Ramadan di Tanah Suci tidak hanya dipenuhi ibadah, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan emosional dengan orang-orang terdekat.
Di tengah kekhusyukan, komunikasi tetap menjadi jembatan yang menghubungkan jemaah dengan keluarga: mengalirkan rindu, harapan, dan kebahagiaan dari Tanah Suci ke seluruh dunia. (Red)
Editor: Nurul Khairiyah