Miris, Momen Maulid Nabi Diduga Dijadikan Ajang Curhat dan Menonjolkan Diri oleh Pj Kepala Desa Karangrahayu

KARANGBAHAGIA (detikgp.com) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang seharusnya menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah, khususnya sikap tawadhu atau rendah hati, justru menuai sorotan dari sejumlah warga Desa Karangrahayu.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku menyayangkan sambutan yang disampaikan Badru selaku Penjabat (Pj) Kepala Desa Karangrahayu dalam kegiatan tersebut, Minggu (30/8/2026).

Menurut warga, sambutan yang disampaikan dinilai tidak sepenuhnya berfokus pada makna dan tema peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Seharusnya momen Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk mengagungkan Rasulullah dan meneladani akhlaknya, bukan menjadi tempat untuk memuji diri sendiri atau membicarakan persoalan pribadi,” ujar warga tersebut.

Ia menilai seorang pemimpin seharusnya memberikan contoh sikap rendah hati sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Di desa ini sedang krisis keteladanan. Pemimpin seharusnya mencontoh sifat tawadhu Nabi Muhammad SAW,” ucapnya.

Warga tersebut juga menyoroti durasi sambutan yang dinilai berlangsung cukup lama. Bahkan, menurut pengakuannya, sambutan masih berlangsung ketika azan Zuhur berkumandang.

Selain itu, warga menilai terdapat sejumlah pernyataan dalam sambutan yang dianggap tidak berkaitan langsung dengan tema Maulid Nabi. Di antaranya mengenai rencana mengundang sejumlah tokoh yang disebut “Ocid dan Maja”.

“Menurut saya, ini salah tempat. Sambutan seharusnya fokus pada inti acara dan jangan mengalihkan perhatian jamaah,” tegasnya.

Lebih lanjut, warga tersebut menyebut bahwa dalam sambutannya, Pj Kepala Desa juga menyampaikan sejumlah persoalan pribadi. Mulai dari pernyataan bahwa dirinya memiliki banyak musuh setelah beberapa bulan menjabat, dugaan pernah menjadi sasaran santet, hingga cerita mengenai mimpi yang berkaitan dengan penunggu desa.

Tak hanya itu, sambutan tersebut juga disebut menyinggung persoalan tempat tinggalnya di Sukatani yang terdampak penggusuran dan diduga berada di atas tanah negara.

Warga pun mempertanyakan pembahasan mengenai akhlak masyarakat Desa Karangrahayu dalam sambutan tersebut.

“Beliau membahas akhlak. Memangnya akhlak warga Desa Karangrahayu rusak? Seharusnya momen Maulid Nabi Muhammad SAW disesuaikan dengan tema Maulid, bukan dijadikan ajang untuk membicarakan diri sendiri dan persoalan pribadi di hadapan para jamaah, terutama ibu-ibu,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pj Kepala Desa Karangrahayu terkait pernyataan dan tanggapan warga tersebut. (Red)

 

Editor: Nurul Khairiyah

Comments (0)
Add Comment