BEKASI (detikgp.com) – Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sejak pertengahan Januari 2026 semakin memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi warga setempat. Curah hujan ekstrem yang berlangsung beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan air di berbagai desa, dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter di sejumlah titik wilayah, terutama di kecamatan seperti Sukawangi, Tambun Utara, dan Karang Bahagia. Termasuk juga wilayah Pondok Ungu Permai Sektor V, kelurahan Bahagia, yang berada di kecamatan Babelan. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke posko penampungan sementara karena rumah mereka masih tergenang air, sementara aktivitas keseharian seperti bekerja, sekolah, dan layanan publik turut terganggu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat bahwa lebih dari 7.600 jiwa atau sekitar 2.900 keluarga tersebar di beberapa titik pengungsian. Para pengungsi menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti air bersih, makanan, dan sanitasi yang layak. Terlebih lagi, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia membutuhkan perhatian kesehatan yang intensif karena kondisi lingkungan yang kurang ideal. Akses menuju fasilitas kesehatan dan sekolah juga terhambat karena sejumlah jalan utama tergenang dan tidak bisa dilalui kendaraan. Akibatnya, proses belajar siswa dan layanan kesehatan menjadi terganggu, mempengaruhi produktivitas masyarakat secara umum.
Selain dampak sosial yang dirasakan langsung oleh warga, sektor ekonomi, khususnya pertanian, mengalami kerugian yang tidak kecil. Data dari dinas terkait menunjukkan bahwa ribuan hektare lahan persawahan di Kabupaten Bekasi terendam banjir, termasuk areal persemaian yang menjadi tumpuan produksi padi lokal. Kondisi ini memicu ancaman gagal panen yang dapat berdampak pada pendapatan petani lokal serta stabilitas pasokan pangan di wilayah tersebut. Ancaman kegagalan panen ini juga berpotensi menambah beban ekonomi bagi keluarga petani yang hidup bergantung pada hasil pertanian musiman.
Kerugian ekonomi akibat banjir tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian. Infrastruktur publik seperti jalan, drainase, hingga fasilitas umum lainnya mengalami kerusakan dan gangguan fungsi. Banyak ruas jalan di permukiman dan kawasan perumahan menjadi tidak bisa dilalui karena genangan air yang tinggi, sehingga aktivitas perekonomian seperti distribusi barang dan mobilitas penduduk terganggu. Dampak ini memperlambat ritme kehidupan sehari-hari dan menambah beban biaya bagi pemerintah dan warga dalam upaya memperbaiki fasilitas yang rusak.
Isu tata ruang dan perubahan fungsi lahan juga menjadi sorotan penting dalam peristiwa banjir di Kabupaten Bekasi. Sejumlah kawasan yang kini menjadi permukiman sebelumnya merupakan lahan resapan air, seperti sawah atau area terbuka hijau. Alih fungsi lahan tersebut, yang semakin masif dalam beberapa tahun terakhir, dinilai telah mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan, seingga meningkatkan volume limpasan air permukaan dan memperbesar risiko banjir. Transformasi kawasan dari fungsi resapan air menjadi perumahan tanpa perencanaan tata ruang yang matang dipandang sebagai salah satu faktor yang memperparah banjir di beberapa wilayah.
Selain itu, sistem drainase yang tidak berfungsi secara optimal turut berkontribusi pada parahnya kondisi banjir. Banyak saluran air yang tersumbat oleh sampah dan tumbuhan liar, sehingga aliran air tidak lancar dan genangan tidak cepat surut. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pemeliharaan dan pembenahan drainase belum berjalan maksimal, padahal drainase yang bersih dan terawat merupakan elemen penting dalam mitigasi banjir di daerah urban dan semi-urban seperti Kabupaten Bekasi.
Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama instansi terkait telah melakukan berbagai langkah penanggulangan bencana, termasuk evakuasi warga, distribusi bantuan logistik, serta koordinasi dengan kementerian dan lembaga kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban banjir. Selain itu, pemerintah mendorong perbaikan perencanaan tata ruang dan normalisasi sungai sebagai bagian dari strategi mitigasi jangka panjang. Partisipasi masyarakat dan sektor usaha juga diharapkan dapat membantu meringankan beban warga terdampak melalui bantuan sosial dan dukungan infrastruktur lokal.
Upaya bersama antara pemerintah, warga, dan sektor swasta dinilai penting agar Bekasi dapat pulih pascabanjir dan memperkuat ketahanan terhadap bencana serupa di masa Warga diimbau tetap waspada mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan, sementara pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan melakukan langkah antisipatif sesuai dengan kondisi lapangan. (Red./As)
Editor: Nurul Khairiyah