Kepala DLH Kabupaten Bekasi Bantah Tudingan Pengusiran dan Penghinaan terhadap Wartawan

KABUPATEN BEKASI (detikgp.com) — Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Syapri Doni Sirait, membantah tudingan yang beredar di media sosial terkait dugaan pengusiran dan penghinaan fisik terhadap seorang wartawan berinisial M atau Simare pada Selasa (6/10/2026).

Doni menyebut informasi yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan kejadian saat dirinya menerima kedatangan sejumlah wartawan yang hendak melakukan konfirmasi terkait pekerjaan.

Menurut Doni, pertemuan tersebut tetap berlangsung di ruang kerjanya. Ia mengaku memberikan kesempatan kepada dua orang wartawan untuk menyampaikan pertanyaan dan mendapatkan keterangan.

“Jadi diawali sekretaris pribadi saya menyampaikan ada yang mau konfirmasi. Saya perkenankan untuk hadir mereka dua. Dua orang tidak kenal, satu orang kenal, termasuk Mare,” kata Doni saat memberikan klarifikasi, Rabu (7/10/2026).

Doni mengatakan persoalan kemudian muncul ketika proses wawancara berlangsung. Ia mengaku memiliki alasan personal sehingga tidak ingin diwawancarai secara langsung oleh M.

Namun, menurutnya, sikap tersebut tidak berkaitan dengan penolakan terhadap profesi wartawan. Ia menegaskan tetap menerima kedatangan wartawan dan memberikan kesempatan untuk melakukan wawancara.

“Kalau saya tidak menerima wartawan, saya pikir salah. Namun ternyata mereka sengaja mem-framing saya dengan berita tidak benar. Padahal sebelumnya saya telah menerima dua orang wartawan tersebut untuk wawancara di ruangan kerja,” ujarnya.

Sebut Wawancara Sempat Terganggu

Dalam klarifikasinya, Doni juga menyinggung dinamika selama wawancara. Ia menyebut salah satu orang yang berada dalam pertemuan beberapa kali memotong penjelasannya.

“Saya diwawancarai oleh dua wartawan. Saat wawancara berlangsung ada salah satu orang selalu memotong penjelasan saya,” jelasnya.

Menurut Doni, kondisi tersebut membuat penjelasan yang diberikan berpotensi tidak tersampaikan secara utuh. Karena itu, ia memilih melanjutkan pembicaraan dengan wartawan lain yang menurutnya dapat mengikuti proses wawancara dengan lebih baik.

Doni juga mempersoalkan komunikasi M dengan anggota keluarganya terkait urusan pekerjaan. Ia menilai persoalan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai pejabat seharusnya tidak melibatkan keluarga.

“Kalau urusan pekerjaan saya, menurut saya tidak etis menghubungi kakak saya. Kenapa? Karena tidak ada hubungannya pekerjaan saya dengan keluarga,” katanya.

Doni mengatakan dirinya mempertimbangkan kondisi orang tuanya yang sudah lanjut usia. Ia mengaku tidak memahami alasan persoalan pekerjaannya dikaitkan dengan anggota keluarganya.

“Saya berpikir menjaga kesehatan orang tua saya. Saya bertanya, mengaku wartawan, kenapa mengait-ngaitkan dengan keluarga saya,” ujarnya.

Ia menilai hubungan antara wartawan dan narasumber seharusnya tetap berada dalam koridor profesional. Menurutnya, persoalan pekerjaan semestinya disampaikan langsung kepada pihak yang memiliki kewenangan memberikan informasi.

Doni berharap komunikasi antara pejabat publik dan insan pers dapat tetap berjalan secara profesional sehingga setiap persoalan dapat diklarifikasi secara langsung dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. (Red.)

 

Editor: Nurul Khairiyah

BekasiKabupaten Bekasi
Comments (0)
Add Comment